Senin, 20 Juni 2011

MENERAPKAN FILSAFAT PADA PENDIDIDKAN MATEMATIKA DI SEKOLAH

Sebagai landasan untuk memahami filsafat pendidikan matematika di sekolah, kita harus terlebih dahulu memahami apakah itu tujuan pendidikan. Selanjutnya implementasi dari tujuan pendidikan matematika harus dapat menjadi landasan untuk menguasai iptek dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara bagi setiap warga sistem. Para ahli filsafat mempublikasikan pendapat-pendapatnya tentang tujuan matematika yaitu “Tujuan Pendidikan Matematika adalah penekanan pemahaman konsep matematika dan penggunaan matematika pada kehidupan masyarakat, karena tak ada bidang ilmu pengetahuan yang tidak memerlukan matematika”. Yang terbagi atas:
  1. Tujuannya harus konsisten sehingga diharapkan siswa dapat menguasai dan memperoleh penghargaan.
  2. Matematika sebagai bagian yang penting dalam komunikasi
  3. Matematika sebagai alat yang sangat kuat sehingga siswa dapat mengembangkannya
  4. Penghargaan hubungan didalan matematika
  5. Kesadaran tentang daya tarik matematika
  6. Berkhayal, inisiatif dan kelenturan dalam berfikir matematika
  7. Bekerja secara sistematis matematika
  8. Bekerja mandiri
  9. Bekerja bersama-sama.
  10. Belajar matematika lebih mendalam.
  11. Siswa percaya diri dengan kemampuan matematikanya
Berbagai pendapat mengenai tujuan pendidikan matematika di dunia, tidak terlepas dari teori filsafat pendidikan yang melatarbelakanginya. Paul Ernest dari University of Exeter (2008) menyatakan bahwa filsafat pendidikan matematika tidak memerlukan interpretasi yang sistem sebanyak area studi dan area investigasinya.
Selanjutnya Ernest menyatakan :”The philosophy of mathematics is undoubtedly an important aspect of philosophy of mathematics education, especially in the way that the philosophy of mathematics impacts on mathematics educations”.
Dalam studinya mengenai filsafat pendidikan matematika, Stephen Brown (1995) mempertanyakan tiga pertanyaan mengenai fokus atau dimensi filsafat, yaitu:
1.      Fisafat diterapkan pada pendidikan matematika?
2.      Filsafat matematika diterapkan pada pendidikan matematika ataukah pada pendidikan secara umum?
3.      Filsafat pendidikan diterapkan pada pendidikan matematika?
Beberapa isu dan pertanyaan yang berhubungan dengan filsafat pendidikan matematika diantaranya adalah sebagai berikut ini:
1.    Apakah matematika?
Merupakan pengetahuan matematika (di sekolah-sekolah) yang harus merefleksikan ruang lingkuap matematika sebagai pembentuk masyarakat yang menjadi pengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari di mana matematika adalah alat untuk melatih cara berfikir.
2.    Bagaimanakah matematika berhubungan dengan masyarakat?
Hal ni harus dapat merefleksikan nilai-nilai dasar dan epistemologin\matematika. Sehingga kurikulim matematika harus mencerminkan keanekaragaman sejarah, budaya, dan lokasi geografis. Sumber ilmu matematika yang tertanam dalam kehidupan social yang modern, matematika harus mudah dipahami oleh wanita, etnik minoritas ataupun kelompok kecil masayarakat lain ( misalkan daerah-daerah terpencil)
3.        Apakah Pembelajaran Matematika?
Adalah pembelajaran yang melibatkan anak-anak peserta didik secara aktif terhadap bidang ilmu matematika, pemecahan soal-soal matematika,penggunaan matematika dalam kehidupan dan lingkungannya dalam konteks kehidupan social yang lebih luas.
4.    Apakah Pengajaran Matematika?
Pengajaran matematika meliputi cara- cara atau metode pengajaran yang menceakup sejumlah komponen diantaranya: (1) diskusi diantara pelajar, diantara guru dan pelajar; (2) kerjasama dalam kelompok, kerjasama dalam pemecahan masalah; (3) kemampuan perorangan dalam meneliti, membahas, memahami topic-topik matematika; (4) tehnik bertanya, pedagogic dan model penilaian, cara berpikir kritis; (5) keterkaitan (penggunaan) matematika dalam kehidupan sehari-hari.
5.        Apakah Status pendidikan matematika sebagai Lapangan Pengetahuan?
Apakah basis dari pendidikan matematika dapat dikatakan sebagai pengetahuan? Apakah pendidikan Matematika mmemrlukan disiplin, inkuiry, suatu area interdisiplin, sebah domain dari penerapan ekstrdisiplin, atau apa? Apakah ada hubungan dengan disiplin ilmu lain seperti filsafat, sosiologi, psikilogi, linguistic, dll? Apakah yang kita ketahui tentang pendidikan matematika?Apakah metode penelitian dan metodologi yang diterapkan dan apakah dasar psikologinya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi dasar yang penting untuk memahami dan mengeksplorasi mengenai filsafat pendidikan matematika di masa yang akan datang.
Prinsip-prinsip pendidikan juga diperlukan. Yaitu ada 2, antara lain : (1) sekolah dan kurikulum harus mewujudkan dan menghormati nilai-nilai di atas sebanyak mungkin, dan (2) kurikulum matematika harus merupakan seleksi perwakilan, yang mencerminkan sifat disiplin itu sendiri.
Sesuai dengan prinsip-prinsip ini, matematika sekolah harus mencerminkan.
Berikut adalah beberapa fitur matematika.
1.       Matematika terutama terdiri dari masalah matematika manusia berpose dan
pemecahan, suatu kegiatan yang dapat diakses oleh semua. Akibatnya, sekolah matematika untuk semua harus terpusat peduli dengan manusia masalah matematika berpose dan pemecahan, dan harus mencerminkan falibilitas nya.
2.      Matematika merupakan bagian dari budaya manusia, dan matematika masing-masing
budaya melayani tujuan sendiri yang unik, dan sama berharga. Akibatnya, matematika sekolah harus mengakui beragam budaya dan sejarah atau igins dan tujuan matematika, dan yang nyata kontribusi dari semua, termasuk perempuan dan negara-negara non-Eropa.
3.      Matematika tidak netral, tetapi sarat dengan nilai-nilai pembuat dan merekakonteks budaya, dan pengguna dan pencipta matematika memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan efek pada dunia sosial dan alam. Akibatnya sekolah matematika harus secara eksplisit mengakui nilai-nilai yang terkait dengan matematika, dan menggunakan sosialnya. Pelajar harus sadar sosial implisit pesan dalam kurikulum matematika dan harus memiliki kepercayaan diri, pengetahuan dan keterampilan untuk dapat memahami sosial menggunakan matematika.


Teori matematika sekolah yaitu bahwa matematika adalah 'tubuh yang jelas pengetahuan dan teknik' (Lawlor, 1988, halaman 9), terdiri dari fakta-fakta dan keterampilan (juga 'rumit dan canggih konsep yang lebih tepat untuk penelitian akademik'). Keterampilan mencakup 'pemahaman sederhana matematika 'dan fakta-fakta termasuk '2 +2 = 4' (Letwin, 1988). Matematika Sekolah jelas batas-batasnya dari daerah lain pengetahuan, dan harus dijaga bebas darinoda hubungan silang-kurikuler dan nilai-nilai sosial (Lawlor, 1988, halaman 7). Masalah Sosial tidak punya tempat dalam matematika (Kampanye untuk Real Pendidikan, 1987), yang benar-benar netral, dan keprihatinan hanya tujuan isi seperti jumlah dan perhitungan.
Epistemologi dan filsafat matematika yaitu Pengetahuan berasal dari otoritas, baik itu Alkitab, atau dari para ahli. Pengetahuan benar adalah pasti, dan di atas pertanyaan. Matematika, seperti sisa pengetahuan, adalah isi
benar fakta, keahlian dan teori.

Filsafat secara eksplisit menyatakan kita bersangkutan dengan
keyakinan yang diucapkan
sistem individu dan kelompok. Keyakinan seperti ini tidak begitu mudah terlepas dari konteks mereka sebagai filsafat publik, menjadi bagian dari keseluruhan ideologis penghubung. Ini mencakup banyak komponen yang saling terkait, termasuk pribadi epistemologi, kumpulan nilai-nilai dan teori-teori pribadi lainnya. Oleh karena itu lebih dari sekedar epistemologi diperlukan untuk menghubungkan filsafat publik dengan ideologi pribadi. Termasuk juga filsafat pada matematika di sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar