Segala sesuatu yang ada didunia ini merupakan berawal dari fenomena alam. Filsafat adalah bagian dari fenomena alam dan termasuk juga filsafat matematika dan filsafat pendidikan matematika. Fenomena dalam arti matematika disini yaitu mencari solusi matematika atau cara matematika atau metode penyelesaian matematikanya. Sedangkan dalam noumena yaitu jika kita tidak mampu memikirkan hal tersebut. Sejarah berkembangnya Filsafat (Hermeneutika filsafat) terbagi menjadi 2 yaitu tetap (oleh Permenides) dan berubah (oleh Heraclitos). Tetap menurut Permenides tersebut memiliki sifat diantaranya tunggal (identitas), absolute serta koheren yang menggunakan logika. Sedangkan berubah menurut Heraclitos tersebut memiliki sifat kontradiktif, relative, korespondensi dan pengalaman. Pada Filsafat matematika itu berawal dari peradaban seperti Mesopotamia, Babilonia, India, Mesir Kuno dan Cina.
Salah satu matematikawan yang sangat terkenal yaitu Euclides. Euclides membuat geometri aksiomatis hingga membentuk sebuah buku yang fenomenal yaitu “The Element”. Kemudian tokoh matematikawan yang lain yaitu Hilbert membuat matematika yang mempunyai sistem definisi, aksiomatis, tunggal lengkap dan konsisten, serta bersifat formal. Pemikiran Hilbert ini dikenal sebagai kaum foundamentalism. Tetapi sebaliknya dengan Godel yang pemikiran sangat berlawanan dengan Hilbert yaitu menyatakan bahwa di dunia itu tidak ada yang tunggal, lengkap, maupun konsisten. Seperti itulah keadaan perkembangan fisafat matematika pada masa itu, yaitu setiap tokoh memiliki pemikiran yang berbeda-beda dan saling memperjuangkan pendapat mereka masing.
Aliran filsafat matematika lebih dikenal sebagai pure mathematic. Di Indonesia penganut aliran ini adalah perguruan tinggi non kependidikan seperti UI, ITB, UGM, IPB, dan lain sebagainya.
Di Indonesia didominasi oleh kaum Hilbertianism yaitu membagi matematika menjadi, antara lain :
1. Matematika aksiomatik
2. Matematika logicist
3. Matematika formal
4. Matematika murni
5. Matematika perguruan tinggi.
Hal tersebut membuat kesadaran akan konteks pada matematika menjadi semakin kecil sekali. Contohnya seperti Ujian Nasional, yang bersifat absolutis. Jika kita analisis lebih dalam sebenarnya ada inovasi lain yang bisa memajukan pendidikan di Indonesia. Seperti salah satu poin yang ada pada surat terbuka untuk presiden yang dibuat oleh Bapak Marsigit, membuat pemikiran bahwasannya UN dihapus diganti dengan PRONASMINRASA(Program Nasional Menumbuhkan Minat dan Rasa Senang Belajar). Kita sebagai warga negara Indonesia berhak mengusulkan atau berpendapat atas sesuatu hal kepada pemerintah guna untuk menciptakan sesuatu yang abstrak, ideal, terbebas dari ruang dan waktu, identitas tapi impersonal (tidak individu).
Semua yang dibicarakan diatas adalah buah karya dari filsafat yaitu yang bermula dari ontology, epistimologi dan aksiologi.
Salah satu matematikawan yang sangat terkenal yaitu Euclides. Euclides membuat geometri aksiomatis hingga membentuk sebuah buku yang fenomenal yaitu “The Element”. Kemudian tokoh matematikawan yang lain yaitu Hilbert membuat matematika yang mempunyai sistem definisi, aksiomatis, tunggal lengkap dan konsisten, serta bersifat formal. Pemikiran Hilbert ini dikenal sebagai kaum foundamentalism. Tetapi sebaliknya dengan Godel yang pemikiran sangat berlawanan dengan Hilbert yaitu menyatakan bahwa di dunia itu tidak ada yang tunggal, lengkap, maupun konsisten. Seperti itulah keadaan perkembangan fisafat matematika pada masa itu, yaitu setiap tokoh memiliki pemikiran yang berbeda-beda dan saling memperjuangkan pendapat mereka masing.
Aliran filsafat matematika lebih dikenal sebagai pure mathematic. Di Indonesia penganut aliran ini adalah perguruan tinggi non kependidikan seperti UI, ITB, UGM, IPB, dan lain sebagainya.
Di Indonesia didominasi oleh kaum Hilbertianism yaitu membagi matematika menjadi, antara lain :
1. Matematika aksiomatik
2. Matematika logicist
3. Matematika formal
4. Matematika murni
5. Matematika perguruan tinggi.
Hal tersebut membuat kesadaran akan konteks pada matematika menjadi semakin kecil sekali. Contohnya seperti Ujian Nasional, yang bersifat absolutis. Jika kita analisis lebih dalam sebenarnya ada inovasi lain yang bisa memajukan pendidikan di Indonesia. Seperti salah satu poin yang ada pada surat terbuka untuk presiden yang dibuat oleh Bapak Marsigit, membuat pemikiran bahwasannya UN dihapus diganti dengan PRONASMINRASA(Program Nasional Menumbuhkan Minat dan Rasa Senang Belajar). Kita sebagai warga negara Indonesia berhak mengusulkan atau berpendapat atas sesuatu hal kepada pemerintah guna untuk menciptakan sesuatu yang abstrak, ideal, terbebas dari ruang dan waktu, identitas tapi impersonal (tidak individu).
Semua yang dibicarakan diatas adalah buah karya dari filsafat yaitu yang bermula dari ontology, epistimologi dan aksiologi.